Konsep “open education” dan “deschooling society” merupakan dua gagasan yang saling berkaitan dalam wacana pendidikan progresif. Open education (pendidikan terbuka) merujuk pada pendekatan pendidikan yang menekankan aksesibilitas, fleksibilitas, dan kebebasan belajar tanpa batasan formal seperti kurikulum kaku atau struktur kelas tradisional. Pendidikan terbuka memungkinkan siapa saja untuk belajar dari berbagai sumber, baik secara daring maupun luring, tanpa harus terikat pada institusi pendidikan formal. Pendekatan ini sejalan dengan semangat demokratisasi pendidikan, di mana pengetahuan dapat diakses oleh semua orang, kapan saja, dan di mana saja.
Di sisi lain, “deschooling society” (masyarakat tanpa sekolah) adalah konsep yang dipopulerkan oleh Ivan Illich dalam bukunya “Deschooling Society” (1971), yang mengkritik ketergantungan masyarakat pada sistem pendidikan formal sebagai satu-satunya cara untuk memperoleh pengetahuan. Illich berargumen bahwa sekolah sebagai institusi cenderung membatasi kebebasan belajar, menciptakan hierarki sosial, dan mereduksi proses belajar menjadi formalitas administratif. Ia mengusulkan masyarakat tanpa sekolah, di mana individu dapat belajar secara mandiri atau melalui komunitas berdasarkan minat dan kebutuhan mereka sendiri, dengan memanfaatkan sumber daya yang ada di lingkungan sosial mereka. Dalam pandangan Illich, pendidikan seharusnya menjadi proses yang terbuka dan partisipatif, bukan monopoli lembaga pendidikan formal. Baik open education maupun deschooling society menekankan pentingnya kebebasan dan akses yang lebih luas dalam pendidikan, serta memberdayakan individu untuk mengambil kendali atas proses belajar mereka sendiri, terlepas dari batasan institusional.

Mantap, terima kasih banyak Pak Arif, sangat mencerahkan ….
Terimakasih pak Nawari Ide…
Konsep Open Educationdan Deschooling Society tidak ada salahnya jika diterapkan dalam masyarakat luas. Dimana mereka bisa memanfaatkan sumber daya yang ada di lingkungan sosial mereka. Mengingat sebagian penduduk di Indonesia ini masih belum punya keinginan untuk menempuh pendidikan di jalur formal, mungkin disebabkan karena alasan tertentu. Dengan adanya konsep ini, mereka mampu belajar secara mandiri atau melalui komunitas berdasarkan minat dan kebutuhan mereka sendiri, dengan memanfaatkan sumber daya yang ada di lingkungan sosial mereka.
Betul sekali, konsep ini bisa dijadikan alternatif model pendidikan di tengah-tengah masyarakat yang memiliki keterbatasan terhadap akses pendidikan formal yang bermutu dan mencerahkan!
Saya juga pernah mengkaji beberapa teori yang di bawa oleh Paulo Freire tentang bagaimana pengetahuan bisa di dapatkan oleh siapa saja tanpa adanya monopoli di dalamnya. Kedua konsep yang di bawa oleh Pak Arif ini sudah di terapkan di banyak wilayah di Indonesia dan benar saja, kajian / pembelajaran mereka mengedepankan interaksi sosial serta rasa empati di dalamnya. Mantap Pak Arif, terima kasih sudah berbagi ilmu nya. Sukses selalu ✨
Sama-sama kakak, semoga dapat menambah wawasan kita terkait pendidikan yang memanusiakan!
Tulisan dan penjelasan bapak sangat informatif dalam menjelaskan konsep “open education” dan “deschooling society.” Kedua gagasan ini memiliki konteks relevansi pendidikan digital saat ini, serta memberikan wawasan baru melalui kritik Ivan Illich. Dengan gaya penulisan bapak yang terstruktur, memudahkan pemahaman kami sebagai pembaca dikalangan mahasiswa yang tertarik mengenai wacana pendidikan progresif dengan berbagai perspektif yang menarik
Saya setuju tentang ide deschooling society, bahwa Pendidikan tidak harus terbatas pada lembaga formal saja. Masyarakat dapat belajar dari berbagai sumber dan pengalaman. Pendidikan terbuka dapat menjadi peluang bagi masyarakat untuk meningkatkan keterampilan dan pengetahuan mereka. Namun, perlu diingat bahwa aksesibilitas teknologi masih menjadi tantangan di beberapa daerah. Dan yang di bawakan pak Arif sudah di realisasikan oleh masyarakat di Indonesia. Terimakasih pak Arif, sangat bermanfaat bagi saya dan pembaca yang lain🙏
Rangkaian kalimatnya sangat mudah dipahami pak, bagaimana prinsip-prinsip “open education” seperti aksesibilitas, fleksibilitas, dan kolaborasi dapat mendukung arti “deschooling society” tentang pembelajaran yang terjadi di luar batas-batas sekolah tradisional. Terimakasih banyak Pak Arif atas ilmu barunya🙏🏻
Mantap pak arif, dari penjabaran terkait konsep Open Education dan Deschooling Society diatas memberikan saya pencerahan kaitannya dengan riset yang sedang saya kerjakan mengenai model pembelajaran outdoor learning dengan metode karyawisata. Walaupun mungkin tidak sejalan secara keseluruhan, namun saya rasa terdapat beberapa hal yang sejalan dengan model outdoor learning dengan metode karyawisata, dimana dalam implementasinya metode ini mengajak peserta didik belajar secara langsung dari lingkungan nyata di luar kelas, seperti kunjungan ke tempat kerja, industri, atau lembaga sosial. Hal ini berkaitan dengan konsep open education yang menekankan kebebasan dalam mengakses dan menggunakan sumber belajar yang beragam, tidak terbatas pada buku teks atau ruang kelas formal. Metode karyawisata memungkinkan penggunaan lingkungan sosial sebagai sumber belajar yang terbuka dan kontekstual, sejalan dengan konsep open education.
Sementara itu, dalam perspektif Deschooling Society dari Ivan Illich, Illich mendorong sistem pendidikan yang lebih organik dan berbasis pengalaman nyata “setiap orang mendefinisikan dirinya sendiri dengan belajar dan berkontribusi pada pembelajaran orang lain”, di mana individu belajar melalui interaksi langsung dengan dunia sosial. Secara konseptual model pembelajaran outdoor learning dengan metode karyawisata juga sejalan dengan perspektif deschooling society dari Illich, karena metode ini memberikan ruang bagi peserta didik untuk belajar dari pengalaman nyata, interaksi langsung dengan dunia sosial, lingkungan sekitar, dan orang-orang yang kompeten dalam bidangnya, bahkan juga dengan berkontribusi di dalamnya, bukan semata-mata dari materi ajar atau buku paket dalam kelas formal.
Hal ini sejalan dengan filosofi pendidikan yang disampaikan oleh Ki Hajar Dewantara, “Semua Tempat adalah Sekolah dan Semua Orang adalah Guru”.
CMIW ✨